Muhammad Imaduddin
Besok kita berangkat ke Juanda jam 8 pagi ya. Pesawat jam 1. Singkat pesan dari kakak saya. Lalu saya jawab, “siap Mas”. Tidak ada kata kelonggaran secuil pun bagi siapa yang terlambat, pesawat akan tetap tutup pintu, lantas lepas landas. Kita bukan siapa - siapa diatas kepentingan orang banyak. Ubi societas ibi ius. Ada manusia, ada hukum yang berlaku. Tanpa perasaan dan tanpa alasan.
Soal kemewahan bisa dibeli, hal kenyamanan bisa dicari, perihal keamanan bisa dirundingkan, perkara waktu tunggu dulu. Semua sudah diberi jatah sama. Jadi harus baik - baik merawatnya. Tidak ada toleransi, tidak ada dispensasi.
Kita sama-sama melihat matahari terbit dari tempat yang sama. Tenggelam dan terbenam di tempat yang sama. Padu padankan kehidupan kita, yang kita hirup, yang kita makan, yang kita rasakan sebenarnya sama. Yang kita inginkan juga sama. Sama-sama ingin menjadi manusia terbaik.
Kita pernah terlambat dalam hidup ini, semisal terlambat masuk kelas pagi. Terlambat mengejar jadwal keberangkatan kereta. Terlambat bangun pagi, padahal alarm handphone sudah berdering berkali-kali, atau terlambat memahami aturan-aturan umum yang berlaku. Karena kurang baca dan karena kurang teliti.
Ada yang dicatat dalam sejarah, daripada kebiasaan terlambat itu semua. Semisal terlambatnya al Ghazali dalam merangkai kitab Ihya Ulumuddin, yang dikarang 5 tahun menjelang ia wafat. Terlambatnya bangsa timur dalam memahami peradaban dan teknologi, dibandingkan dengan bangsa barat. Terlambatnya Pesantren dalam mendalami ilmu sains, sehingga acapkali dianggap kolot dan pendidikan terbelakang oleh banyak pihak.
Yang datang belakang bukan berarti ia gagal, barangkali ia tertatih-tatih untuk cepat melaju kemudian. Bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia tidak baik, bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik untukmu. S.Q. Al Baqarah : 216. Tapi, dari semua peristiwa terlambat dalam hidup ini. Jangan jadikan diri kita terlambat menghargai manusia, menghargai peristiwa, menghargai waktu, dan menghargai ilmu.
Faham koq!
Orang tuamu bikin sebel sekali, dan bisa jadi banyak ngerecokin model gaya hidupmu. Tapi itu tidak sebanding dengan tingkah polah dan kenakalan kita waktu kecil kan ? Tidak pernah terlambat!, untuk kamu WhatsApp sekarang orang tuamu, sembari bagaimana kamu beri tahu kabarmu hari ini, meminta restu, maaf, dan do'a. Sama sekali tidak ada kata terlambat. Daripada tidak sama sekali.
Kita boleh menebang pohon tua itu, tapi yakinkan dirimu untuk tidak mencabut akarnya. Cobalah merangkai kembali hidupnya, dari ranting - rantingnya. Sama seperti cara kamu bertemu atau menghadapi hidup ini. Gagal adalah kosakata bagi mereka yang menyerah. Bersyukurnya kamu masih diberi waktu dan kesempatan. Ingat, bumi ini tidak diciptakan untuk diri kamu sendiri.
Romdhi Fatkhur Rozi
Masa muda yang keren itu oke. Pernah mengalami, setidaknya menurut ukuranku sendiri. Belakangan lagi berfikir keras gimana caranya punya masa tua yang juga keren.
Masa muda yang asyik itu hampir 100% tergantung diri sendiri. Misalnya bisa sekolah, kuliah, dengan nilai bagus dan banyak aktivitas positif. Melewati masa-masa bandel dengan selamat, tidak sampai berurusan dengan hukum. Dapat pekerjaan baik dan karir bagus. Kurang lebih, hampir semuanya tentang diri sendiri, setidaknya dalam kendali pikiran kita.
Tapi masa tua yang keren, ternyata bukan tentang diri sendiri. Misalnya bisa merawat orang tua dengan tangan kita sendiri. Punya anak yang tumbuh sehat, pintar, berprestasi dan seterusnya. Anak-anak yang menikah, punya karir bagus, dan melahirkan cucu-cucu yang baik. Hidup makmur, sehat panjang umur bersama pasangan kita. Banyak hal melibatkan orang lain. Melibatkan pikiran mereka. Membutuhkan waktu untuk belajar bareng. Kompleks sekali.
Waktu awal 20-an, mungkin kita bisa secara egois memikirkan diri sendiri. Tapi belakangan ini, menuju 40, nyatanya keadaan membuat kita harus memikirkan lebih banyak hal. Misalnya, investasi karakter untuk anak, bakti untuk orang tua, kasih sayang untuk pasangan, dan seterusnya. Pikiran bisa dikendalikan, tapi tidak dengan pikiran orang lain. Mungkin benar juga kehidupan yang sesungguhnya itu bukan melulu tentang hal-hal materialistik. Iya, itu penting. Tapi apa nikmatnya menikmati semua itu sendiri nantinya? Atau karena kesalahan mengatur pola hidup, justru kita tidak bisa menikmati itu semua?
Ada satu frasa keren; bersahaja. Ini tentang menjadi sederhana, biasa saja, menjadi tempat terbaik untuk orang sekitar kita. Ini juga tentang meluangkan waktu untuk memuji pencapaian orang lain, tidak berfokus pada diri sendiri. Ini juga tentang sikap rendah hati, termasuk tidak melakukan agresi non-fisik. Apalagi kebanyakan dari kita, pasti pernah mencoba pola hidup yang akrobatik, lalu memaksakan pikiran itu pada orang lain. Nyatanya, menjadi bersahaja, juga tidak mudah.
Selalu jadi versi terbaik dari diri sendiri di semua rentang usia itu memang PR banget sih. Lagipula pikiran semacam ini juga tidak boleh terlambat disadari. Kita semua sedang berusaha menjalani hidup yang berkualitas. Bukan hanya tentang hari ini, tapi juga tentang masa depan. Semangat!
Muhammad Imaduddin
Ada satu rahasia kecil yang sering dilupakan: Indonesia itu negeri yang tampak serius, tapi sejatinya suka bercanda. Lihat saja, orang kita bisa menghadapi krisis ekonomi sambil tetap nongkrong di warung kopi. Harga cabai bisa melambung, tapi obrolan di pos romda masih bisa ditutup dengan tawa. Entah ini kekuatan, entah kelemahan, tapi jelas inilah wajah kita.
Rakyat kecil selalu punya cara unik untu menertawakan nasib. Petani yang panennya gagal masih bisa berseloroh, "Ya wis, mungkin padi-padi ini lagi mogok kerja". Tukang becak yang sepi penumpang bercanda, "Rejeki saya lagi ikut demo di DPR, belum pulang". Dan entah mengapa, humor itu justru yang membuat mereka kuat, lebih kuat daripada teori-teori politik yang panjang dan ruwet.
Tawa adalah cara kita menolak kalah. "Karena menang itu tidak selalu soal menaklukkan, tapi juga tentang mampu bertahan tanpa kehilangan keceriaan". Seorang petani yang tetap bisa tersenyu, meski hutang pupuk menumpuk, sejatinya lebih menang dibanding pejabat yang duduk di kursi empuk tapi wajahnya selalu masam. Tapi, jangan salah. Keceriaan itu bukan berarti kita abai. Bangsa ini juga punya wajah serius yang mendalam. Ketika bendera merah putih berkibar, semua akan menunduk hormat. Ketika azan berkumandang, kaki melangkah ke masjid dengan khidmat. Ketika ada tetangga kesusahan, orang sekampung bisa berbondong-bondong tilik membantu tanpa hitung-hitungan.
Kita ini bangsa yang bisa berganti rupa. Pagi-pagi serius kerja, siang-siang bisa ribut di jalanan, sore harinya bercanda lagi sambil minum kopi, malamnya doa khusyuk seolah dunia tak ada. Terkadang bangsa ini seperti sinetron tanpa skenario. Pemerintah sibuk bikin aturan yang rumit, rakyat kecil sibuk mencari jalan pintas supaya bisa tetap hidup. Tapi toh, semuanya tetap berjalan. Kadang kacau, tapi selalu ada yang menyelamatkan. Entah itu doa ibu, entah itu ketangguhan bapak, entah itu humor receh anak-anak muda yang selallu bisa bikin semua terasa ringan.
Indonesia ini bukan negara yang dibangun dari kehebatan individu, tapi dari kebersamaan yang tak bisa dijelaskan dengan logika Barat. Kita kuat bukan karena kita sama, tapi justru karena kita beda-beda dan tetap bisa bercanda bersama. Jadi kalau ada yang bilang bangsa ini rapuh, jangan buru-buru percaya. Rapuh di luar mungkin, tapi di dalamnya ada daya tahan yang aneh. Yaitu masih bisa tertawa. Dan selama rakyat kecil, masih bisa tertawa, selama anak-anak desa masih bisa bercanda sambil main layangan, selama pasar tradisional masih riuh dengan guyonan pedagang dan pembeli, bangsa ini tak akan pernah benar-benar kalah.
Karena sejatinya, Indonesia adalah negeri serius yang sengaja menyamar, agar hidup tak terlalu berat dipikul. Sama seperti caraku mencintaimu, terkadang serius, terkadang pula tak dianggap serius.
Jember, 7 September 2025
Romdhi Fatkhur Rozi
Ini erat kaitannya dengan gerakan sosial di jejaring digital khususnya media sosial. Aku bukan hendak melemahkan narasi yang sedang dibangun di mana-mana, tapi ingin mengajak diskusi kritis soal potret media digital kontemporer.
Ada terminologi asyik yang disebut social media echo chamber. Ini sudah dikenalkan lama dan jadi bahasan akademik sejak tahun 90’an dan melesat kepopulerannya sebagai kajian di tahun-tahun ketika media sosial jadi leading sector banyak hal. Sederhananya ini adalah potret yang menggambarkan para pengguna media sosial yang cenderung berinteraksi dengan konten yang memperkuat keyakinan mereka sendiri (kita bisa salahkan algoritma dalam hal ini, meskipun bukan itu inti persoalan dalam pembahasan kali ini).
Akibatnya, muncul ruang informasi yang tertutup karena mereka hanya terlibat dalam gema wacana yang mereka bicarakan. Echo atau gema, beroperasi dengan cara semacam itu. Kita banyak melihat viralitas yang tiba-tiba, tapi hanya ramai sebagai perbincangan di ruang digital. Ia bagaikan gema yang terus menerus memantulkan suara. Mereka yang mendengar gema, merasa bahwa suara yang dihasilkan sangat massif padahal itu semacam ilusi, karena mereka hanya mendengar suara mereka sendiri berkali-kali. Padahal dalam kenyataannya (meskipun tidak semua), pembicaran yang sangat bising di media sosial, nyatanya tidak berdampak secara signifikan dalam kenyataan. Apakah kalian merasakan echo chamber media sosial? Mungkin sering ya. Tapi tunggu ini belum selesai.
Kenapa echo chamber media sosial itu bisa terjadi sih? Sini aku kasih tau sesuatu.
Ada terminologi lain yang disebut performative discourse. Ini model yg menggambarkan tindakan komunikasi dengan tujuan semata untuk menampilkan identitas berpihak pada nilai dan sikap tertentu, daripada untuk berkontribusi pada solusi nyata. Biasanya gejalanya itu ditandai dengan tidak adanya diskusi substansif, hanya ramai, cepat, massif yang tanpa disadari itu menciptakan gema (seperti yg dijelaskan pada terminologi pertama tadi). Orang-orang yang melakukan ini, kebanyakan (tidak semua) adalah kaum yang membutuhkan pengakuan, dukungan atau pujian dari orang lain, tanpa diikuti upaya nyata untuk bertindak. Ada yang begini di sekitarmu? Biasanya banyak sih. Mereka-mereka ini fokus pada tampilan sosial, minim komitmen, superfisial lah intinya. Kebanyakan hanya ingin mendapat validasi. Performative discourse ini dalam gerakan sosial sebetulnya merupakan bentuk kerugian. Karena memberi kesan ada kepedulian sosial yang tinggi, banyak keterlibatan, tapi tidak memberi kemajuan substantif karena tindakan primer yang harusnya dilakukan, itu tidak dilakukan. Ini akan berkaitan lagi dengan terminologi lain, yang disebut virtue signaling, atau memberi sinyal virtual untuk mendukung value tertentu, tapi hanya untuk meningkatkan citra diri, daripada berkontribusi secara nyata untuk perubahan sosial yang sebenarnya. Ya namanya juga virtual.
Nah kira-kira apakah kita terjebak dalam performative discourse ala virtue signaling yang mengakibatkan echo chamber media sosial? Mari kita renungkan. Tapi jangan cuma merenung dong, apalagi cuma repost-repost aja. Katanya, lawan!?